Nyaris 365 hari berlalu dari kehidupan saya sebagai wanita dewasa muda dengan usia produktif. Bagaimana rasanya? MENAKJUBKAN!
Perasaan yang belum pernah terpikirkan sebelumnya, pengalaman yang belum pernah terbayangkan di hari yang lalu.
Semakin banyak pintu terbuka, semakin banyak pula tanda tanya yang berkeliaran.
Kemari! Jangan pergi jauh Tanda Tanya, saya masih butuh kalian. Untuk tetap mempertanyakan kehidupan yang sederhana namun mempesona ini.
Mudah bagimu untuk berkata bahwa hidup ini mempesona. Mungkin itu jawaban dari sebagian orang dari pernyataan saya tentang hidup.
Kamu bekerja untuk berlibur!
Paris, London, Amsterdam, Zurich, Copenhagen.
Hongkong, Tokyo, Shanghai, New Delhi.
San Fransisco, South Africa, Sydney, New Zealand.
Kamu berkeringat untuk menikmati dunia!
Eiffel Tower, BUckingham Palace, Alpen Mountain, Windmill.
Taj Mahal, Harajuku, Tokyo Tower.
Golden Gate, Wildlife Safari, Opera House.
Saya dipersalahkan. Saya dituding.
Padahal saya bekerja untuk menetapkan diri. Untuk memantapkan kaki di dunia. Untuk membanggakan hati orang tua yang sudah setengah baya.
Kamu sudah kaya sekarang, tiap bulan tabunganmu bertambah tiga puluh lima juta rupiah.
Kamu sekarang jadi penakut, takut telepon genggammu yang mahal itu hilang, takut tasmu yang dibeli di Milan tergores, takut baju berbahan sutramu terkena noda makanan.
YA!
Isi tabungan berbentuk ayam jago memang sudah jauh melampaui imajinasi muda saya. Jika saya ketok kepalanya dengan palu, PRANG! Koinnya bisa memenuhi kamar flat saya kemudian saya hanya bisa tidur meringkuk di pojokan atau mungkin menumpang tidur dikamar Yugi.
Tapi sesungguhnya saya sangat miskin. Tak punya yang paling penting.
Dimana Ayah, Ibu dan Adik saya? Adakah mereka ketika saya pulang bekerja? Ketika saya butuh dipeluk atau sekedar beradu mulut?
Dimana temanteman dekat saya? Adakah mereka ketika saya penat dengan kehidupan sebagai robot pekerja? Ketika saya ingin makan soto Betawi atau sekedar karaoke ria?
YA!
saya takut telepon genggam hilang untuk kedua kalinya, takut tas terkena goresan pulpen, dan takut merusak baju berbahan sutra.
Tapi ketakutan terbesar adalah kehilangan diri saya sendiri. I’m not the way I used to be now. Sekarang saya kesepian dan sendiri, hanya ditemani koin hasil tabungan dan harta karun dari berbagai belahan dunia. Hanya ditemani The Killers dan Oren Lavie. Hanya ditemani segelas kopi yang telah dingin akibat hembusan pendingin udara kamar hotel. Hanya ditemani kenangan tentang mereka yang saya rindukan.
Dulu semuanya hanya ‘one text message away’.
“Om, karaoke yuk! Jam 5 di PVJ ya, ajakin Nilam”. BERES!
“Bangke, makan siang di Sari Bundo yuk, tar gw SMS Ade sama Agun juga”. SIAP!
Dulu. Dulu. Dulu melulu.
Kamu sekarang jadi tak tahu terima kasih.
Kamu sudah melihat dunia. Tak semua dewasa muda punya kesempatan liar seperti itu.
Saya tidak lupa diri. Saya selalu bersyukur bisa makan tiap hari.
Selalu mengucap ‘Alhamdulillah’.
Selalu ingat pada-Nya.
Sebagai penutup kata, bolehkah saya titip pesan singkat?
Untuk Ayah dan Ibu.
Saya tetap gadis kecil kalian. Keras kepala dan suka buang angin sembarangan.
Untuk Adik.
Saya tetap kakakmu, Teh Icha, yang sok tahu dan memang lebih pintar dari kamu.
Untuk temanteman dekat.
Saya tetap Icha, Purba, atau apapun panggilan kalian untuk saya, teman yang kurang peka tapi selalu berusaha hadir di kehidupan kalian.
Maaf jika akhirakhir ini absensi kehadiran saya dibawah dua puluh persen.
Nanti saya ambil semester pendek di akhir Oktober.
Cheers for Life!
Delapan lewat delapan belas pagi
Crowne Plaza, New Delhi, India.